Makale Selatan (Humas KUA Makale Selatan) - Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Makale Selatan melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) terus meneguhkan komitmennya dalam mencegah perkawinan anak dan merawat kerukunan umat beragama. Berbeda dari pelaksanaan tahun sebelumnya, KUA Makale Selatan kali ini mengambil langkah inovatif dengan menggandeng Penyuluh Agama Kristen untuk menggelar pembinaan inklusif di SMPN 2 SATAP Makale Selatan, Rabu (09/09/2026).

Kepala KUA Makale Selatan, Ardi Muharram, menjelaskan bahwa kegiatan BRUS merupakan bagian dari pembinaan berkelanjutan. Namun, kondisi sekolah yang memiliki siswa dengan latar belakang agama yang beragam (Muslim dan Kristen) mendorong pihaknya untuk mengembangkan pendekatan pembinaan yang lebih inklusif.
"Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pembinaan. Karena di sekolah ini terdapat siswa Muslim dan Kristen, maka kami mengajak Penyuluh Agama Kristen untuk bersama-sama melakukan pembinaan agar kegiatan ini dapat berjalan lebih maksimal," jelas Ardi Muharram.
Menurutnya, kolaborasi tersebut tidak hanya memperkuat pembinaan keagamaan, tetapi juga menjadi praktik nyata dalam membangun moderasi beragama sejak usia sekolah. Para siswa diberikan ruang untuk belajar bersama, saling menghargai perbedaan, dan tetap mendapatkan penguatan keagamaan sesuai dengan agama masing-masing.
Kepala SMPN 2 SATAP Makale Selatan, Yohanis Kala' Allo, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas inisiasi pelaksanaan BRUS di sekolahnya. Ia menilai kegiatan semacam ini sangat membantu pihak sekolah dalam memberikan pembinaan kepada siswa, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan pergaulan remaja di era modern.
Senada dengan itu, Kepala Lembang setempat, Tandi Rumambo, turut memberikan apresiasinya. Ia menilai kegiatan edukasi seperti BRUS merupakan kebutuhan krusial yang selama ini dinantikan oleh masyarakat. "Perkembangan pergaulan di kalangan remaja perlu mendapatkan perhatian bersama karena berpotensi mendorong berbagai bentuk kenakalan, termasuk perilaku yang dapat berujung pada perkawinan usia anak," ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, pembinaan disampaikan melalui tiga materi utama oleh para pemateri dari unsur penyuluh agama. Materi pertama disampaikan oleh Tri Handayani yang mengangkat tema pencegahan perkawinan anak melalui pendekatan reflektif. Para siswa diajak untuk mengenali potensi diri, menggali cita-cita, serta memahami pentingnya mempersiapkan masa depan dan konsekuensi dari pernikahan di usia yang belum matang.
Selanjutnya, Oktavianus Marsel Bokko memberikan materi mengenai penguatan moderasi beragama. Materi diarahkan untuk membangun sikap saling menghargai, menerima perbedaan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa keberagaman agama di lingkungan sekolah merupakan kekayaan yang perlu dirawat. Sementara itu, pemateri ketiga, Miftah Farid, membawakan topik remaja sehat yang menyoroti persoalan pergaulan bebas dan bagaimana memiliki kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam fase remaja.

Pada sesi terakhir, para siswa kemudian dibagi ke dalam dua kelompok berdasarkan agama. Siswa Muslim mendapatkan penguatan akidah bersama Penyuluh Agama Islam, sementara siswa Kristen mengikuti pembinaan dan ibadah yang didampingi oleh Penyuluh Agama Kristen.
Pembagian sesi akhir ini menjadi bukti pendekatan pembinaan yang tetap menghormati identitas dan keyakinan peserta didik. Melalui BRUS inklusif ini, KUA Makale Selatan berupaya menjadikan sekolah sebagai ruang strategis untuk membangun kesadaran remaja secara komprehensif tanpa sekat diskriminasi. (Red)