Makale, Humas MIN 1 – Kepiawaian bertutur dan merangkai kata dalam bahasa daerah ditunjukkan oleh generasi muda madrasah. Tiga peserta didik Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Tana Toraja tampil percaya diri saat berpartisipasi dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kabupaten Tana Toraja yang berlangsung di Gedung Aula Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tana Toraja, Selasa (29/09/2026).
Ajang FTBI diselenggarakan sebagai ikhtiar pelestarian bahasa ibu sekaligus merevitalisasi kecintaan generasi penerus terhadap kekayaan bahasa dan budaya lokal sejak bangku sekolah dasar. Dalam festival tersebut, kontingen cilik MIN 1 Tana Toraja mengambil bagian pada dua cabang kompetisi sastra, yakni cabang mendongeng kategori putri serta cabang menulis cerita untuk kategori putra dan putri.
Di atas panggung dan ruang perlombaan, ketiga siswa madrasah ini menunjukkan dedikasi dan penghayatan yang memikat. Melalui intonasi tuturan dongeng yang ekspresif serta goresan pena dalam penulisan cerita berbahasa daerah, mereka membuktikan bahwa anak-anak madrasah mampu menjadi garda pelestari bahasa leluhur yang berwawasan luas.
Keikutsertaan ini menjadi pengalaman berharga bagi para murid untuk mengasah kecakapan literasi, menumbuhkan keberanian berekspresi, serta memperkuat identitas budaya di era modernisasi.
Kepala MIN 1 Tana Toraja, Rante Mappasanda, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya atas partisipasi aktif para anak didiknya. Menurutnya, keberanian untuk tampil dan mencintai bahasa daerah merupakan modal karakter yang sangat berharga.
"Semangat luar biasa untuk anak-anak kita yang telah berani tampil dan berkarya hari ini. Semoga ajang ini menjadi pemantik motivasi bagi seluruh peserta didik untuk terus mengembangkan potensi diri, khususnya kecintaan terhadap literasi, bahasa, dan pelestarian budaya lokal," ungkap Rante penuh bangga.
Pihak madrasah terus berkomitmen mendorong para murid agar tidak hanya unggul dalam capaian akademik dan keagamaan, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap warisan sastra daerah sebagai akar pembentukan karakter generasi bangsa yang berdaya saing. (IP/Red)