Logo Kemenag SIRITA Sistem Informasi Religi Tana Toraja
Madrasah / MAN Tana Toraja

Momentum Tahun Baru Hijriah: Guru Madrasah Tana Toraja Diajak 'Hijrah' Metode Mengajar, Tinggalkan Gaya Lama

Tayang: Selasa, 16 Juni 2026 11:35 WITA

Penulis: Munawwir

302 views 1 suka 6 dibagikan
Momentum Tahun Baru Hijriah: Guru Madrasah Tana Toraja Diajak 'Hijrah' Metode Mengajar, Tinggalkan Gaya Lama

MAKALE, Humas MAN Tana Toraja — Momentum 1 Muharram 1448 Hijriah yang jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026, menjadi pemantik semangat baru bagi ratusan guru madrasah di Tana Toraja. Alih-alih sekadar merayakan pergantian tahun Islam secara seremonial, para pendidik yang tergabung dalam MGMP MAN Tana Toraja dan KKG MI Tana Toraja memilih langsung tancap gas melakukan refleksi mendalam mengenai gaya mengajar mereka di ruang kelas.

Dalam pembukaan workshop peningkatan profesionalisme guru yang digelar di Gedung Perpustakaan dan Laboratorium Terpadu MAN Tana Toraja, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Seksi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Tana Toraja, H. Tamrin Lodo, melontarkan ajakan penting mengenai esensi "hijrah" bagi seorang pendidik di era modern.

Esensi Hijrah: Pindah Cara, Tinggalkan Ceramah Melulu

Dari sudut pandang substantif, proses belajar-mengajar di madrasah dituntut untuk bertransformasi total. H. Tamrin Lodo menegaskan bahwa peringatan tahun baru Islam harus dimaknai sebagai momentum perubahan tata cara dan metodologi pembelajaran di dalam kelas.

"Alhamdulillah, kita memasuki hari baru (1 Muharram). Jika dulu hijrah dilakukan karena kondisi negara, maka saat ini bagi kita adalah hijrah tata cara. Bagaimana kita pindah cara, pindah mengajar. Jangan lagi kita mengajar seperti tempo dulu; ceramah melulu tanpa ada variasi cara-cara baru," tegas Tamrin di hadapan peserta.

Ia menambahkan, kehadiran guru di sekolah kini dituntut untuk 'hadir seutuhnya' (full), baik secara fisik maupun emosional. Pola pengajaran masa kini tidak boleh lagi membeda-bedakan siswa berdasarkan nilai akademis semata.

"Bagaimana guru melihat anak bukan hanya karena prestasinya, tapi semua anak diperlakukan dengan baik," imbuhnya, menekankan pentingnya keadilan afektif dalam mendidik.

Menghidupkan Kembali Fungsi Holistik Organisasi Profesi

Selain refleksi metode mengajar, awal tahun baru hijriah ini juga diarahkan sebagai ajang revitalisasi organisasi profesi guru di Tana Toraja. Kolaborasi antara MGMP dan KKG ini dipandang bukan sekadar agenda kumpul bersama, melainkan wadah krusial untuk membedah masalah-masalah riil yang dihadapi guru di lapangan.

Tamrin mengingatkan bahwa wadah seperti MGMP dan KKG sudah lama berdiri sebagai organisasi profesi. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana organisasi ini benar-benar mampu membentuk guru yang memiliki kompetensi utuh secara holistik—bukan hanya sebagai pengajar yang mentransfer materi, melainkan sebagai pendidik yang menanamkan karakter.

"Mudah-mudahan MGMP/KKG ini menjadi wadah komunikasi guru-guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran dengan baik. Mengingat tugas guru itu secara holistik, dari sisi mendidik ada yang namanya pembiasaan, yang nanti akan dikupas lebih dalam oleh ibu pemateri," urainya.

Dampak Nyata yang Dirasakan Peserta

Sudut pandang perubahan ini langsung diresapi oleh para peserta workshop. Beberapa guru peserta menyatakan bahwa tantangan untuk "hijrah metode" ini menjadi tamparan sekaligus motivasi segar. Di hari pertama ini, mereka tidak lagi disuguhi pidato formalitas, melainkan langsung dihadapkan pada cermin realitas: apakah cara mengajar mereka selama ini sudah memanusiakan siswa, atau justru masih menjebak siswa dalam kantuk akibat metode ceramah yang monoton.

Melalui sinergi tema Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta yang diajarkan dalam workshop ini, para guru madrasah se-Tana Toraja sepakat bahwa tahun baru 1448 Hijriah menjadi garis start untuk meninggalkan zona nyaman demi melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas otak, tapi juga anggun dalam karakter.

Tagar: #workshop KBC dan Deep Leraning #MGMP #MAN Tana Toraja
M

Unit Kerja

MAN Tana Toraja

Berita Terkait

Rawat Toleransi Lewat Kurikulum Berbasis Cinta, Ratusan Siswa MAN Tana Toraja Selami Moderasi Beragama di Batara White House
MAN Tana Toraja

Rawat Toleransi Lewat Kurikulum Berbasis Cinta, Ratusan Siswa MAN Tana Toraja Selami Moderasi Beragama di Batara White House

Kegiatan belajar di luar lingkungan madrasah yang digelar oleh MAN Tana Toraja di Batara White House pada Kamis, 11 Juni 2026, sukses mengintegrasikan indikator Moderasi Beragama Kemenag RI dengan esensi Kurikulum Berbasis Cinta. Diikuti oleh seluruh siswa kelas X, XI, serta guru dan staf, acara ini menghadirkan dialog interaktif metode "Segitiga Dialog" bersama Tokoh Agama Islam H. Tamrin Lodo, Tokoh Adat dan Agama Kristen Pendeta Musa Salussu, serta Ketua Komite Madrasah H. Suardi Sidik. Melalui kombinasi talk show kebangsaan, kegiatan outbound games bermuatan nilai toleransi, dan pengisian Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) reflektif, para siswa diajak menyelami esensi pluralisme, merawat kearifan lokal Toraja tanpa mengorbankan akidah, serta mendapat dukungan penuh komite untuk mengembangkan MAN Tana Toraja sebagai pelopor madrasah inklusif di masa depan.

11 Jun 2026 205 views Baca Selengkapnya →