Pangkep, Humas Kemenag Tana Toraja – Di balik riuh tepuk tangan penutupan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) VIII KORPRI Tingkat Nasional yang ditutup resmi oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar pada Sabtu (29/08/2026) di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), sebuah kabar membanggakan berhembus untuk Bumi Lakipadada. Tri Handayani, S.H., Penyuluh Agama Islam pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Makale Selatan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih predikat Terbaik 1 pada cabang lomba Cipta dan Baca Puisi Islami.
Capaian ini terasa kian prestisius mengingat perhelatan yang mengusung tema "ASN Berakhlak Mulia, Indonesia Tangguh" ini tercatat sebagai MTQ KORPRI terbesar sepanjang sejarah. Ajang akbar besutan Dewan Pengurus KORPRI Nasional (DPKN) bersama Pemprov Sulawesi Selatan tersebut mempertemukan 114 kafilah yang terdiri atas 38 provinsi serta 76 kementerian, lembaga, dan perguruan tinggi negeri dengan lebih dari 1.500 peserta dan ofisial dari seluruh pelosok Nusantara. Bagi Tri Handayani, menulis puisi adalah dunia baru yang belum lama ditekuninya. Namun, lewat ketekunan menyusun untaian kata dan penghayatan emosi yang mendalam, karyanya mampu memikat dewan hakim dan mengungguli para sastrawan ASN berpengalaman dari berbagai daerah.
Perjalanan meraih trofi tertinggi ini lahir dari ritme kedisiplinan yang bersahaja di sela-sela rutinitas kedinasan. Dari pagi hingga sore hari, Tri Handayani tetap fokus menjalankan tugas utamanya sebagai penyuluh agama yang terjun langsung membina masyarakat dan umat di pelosok Makale Selatan. Ketika malam tiba dan kesibukan mereda, ia secara konsisten menyisihkan waktu 15 hingga 30 menit untuk membaca karya sastra, salah satunya menyelami buku Sang Kekasih karya pujangga legendaris Kahlil Gibran.
"Bukan sekadar menikmati keindahan bahasanya, tetapi saya ingin menemukan frasa-frasa baru sekaligus mempelajari bagaimana Gibran membangun gagasan, menyusun hubungan antarkalimat, dan membentuk logika berpikir. Dari sana, lahir cara pandang baru yang memperkaya cara saya menulis dan memahami sesuatu," tutur Tri Handayani mengenang proses kreatifnya yang kian diintensifkan dua minggu menjelang perlombaan.
Tantangan terberat baginya justru hadir saat harus melangkah ke atas panggung dan tampil di hadapan dewan hakim di Pangkep. Mengangkat tema jihad, ia dituntut menghidupkan getar makna tanpa kehilangan kendali rasa.
"Tantangan paling mendebarkan adalah mengumpulkan dan menemukan emosi yang tepat. Bahkan hingga babak final, saya masih terus mencari nada yang benar-benar pas. Saya harus memahami kembali setiap kata, menghidupkan ruhnya, lalu menyampaikannya secara terkontrol di depan dewan juri," ungkapnya.
Saat namanya diumumkan sebagai Juara Terbaik 1, rasa haru dan tak percaya menyelimuti perasaannya. Pengalaman pertama di kancah nasional ini langsung berbuah manis, mengalahkan keraguan di tengah persaingan ketat bersama para finalis lain yang sarat pengalaman sastra.
Bagi Tri Handayani, puisi yang ia ciptakan dan bacakan adalah surat cinta dari tanah tempatnya mengabdi. Seluruh gurat kata dalam karyanya lahir dari bentang alam pegunungan, denyut sosial masyarakat, serta kehangatan kearifan lokal Tana Toraja yang ia jumpai sehari-hari di lapangan.
"Prestasi ini saya persembahkan seutuhnya untuk wilayah pengabdian saya di Makale Selatan, Tana Toraja. Puisi ini lahir dari kondisi geografis, kehidupan warga, serta pengalaman saya mendampingi umat. Kemenangan ini bukan semata pencapaian pribadi, melainkan ikhtiar membawa cerita, nilai-nilai luhur, dan suara pengabdian dari pelosok Toraja ke panggung nasional," tegasnya dengan mata berbinar.
Sesuai regulasi kompetisi, predikat Terbaik 1 ini sekaligus menjadi titik akhir bagi keikutsertaannya pada cabang cipta dan baca puisi Islami di edisi mendatang. Kendati ada rasa kehilangan karena harus menyudahi perjumpaan di cabang yang dicintainya, ia memandangnya sebagai gerbang menuju tantangan baru untuk terus mengembangkan diri.
Menutup perbincangan, ia berpesan kepada seluruh rekan ASN dan masyarakat luas agar terus menyalakan semangat berkarya dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an. "Kembangkan potensi diri, ambil setiap kesempatan yang hadir, dan jadikan itu sebagai sarana mengharumkan nama daerah. Mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an bukan hanya soal pemahaman di kepala, melainkan bagaimana kita menerjemahkannya ke dalam aksi nyata pengabdian kepada sesama," pungkasnya. (AP/Red)